intertidal
a. Pengertian Zona Intertidal
Zona Intertidal (pasang surut) merupakan daerah terkecil yang merupakan pinggiran yang sempit sekali dan terletak diantara pinggiran air tinggi dan air rendah. Susunan factor-faktor lingkungannya dan kisaran yang dijumpai dizona intertidal sebagian disebabkan zona ini berada di udara terbuka selama waktu dalam setahun, dan kebanyakan factor fisiknya menunjukkan kisaran yang lebih besar di udara daripad diair (Ekoblog, 2009).
Zona ini merupakan bagian laut yang mungkin paling banyak dikenal dan dipelajari. Karena sangat mudah dicapai manusia. Hanya didaerah inilah penelitian terhadap organisme perairan dapat dilaksanakn secara langsung selama perode air surut tanpa memerlukan peralatan khusus. Kekayaannya, keragaman factor lingkungan serta kemudahan untuk mencapainya menyebabkan daerah ini mendapat perhatian secara alamiah organisme dan interaksinya dalam daerah kecil ini lebih banyak dikenal daripada di daerah-daerah lain (Nybakken, 1988).
b. Faktor-Faktor di zona Intertidal
Menurut Prajitno (2009) factor-faktor intertidal:
· Pasang surut
Yaitu naik turunnya permukaan air laut secara periodic selama interval waktu tertentu, sebagai contoh pantai Balekambang, pantai Sendang Biru.ini merupakan factor lingkungan paling penting yang mempengaruhi kehidupan di zona intertidal tanpa ada pasang surut secara periodic zone ini tidak berarti dan factor lain akan kehilangan pengaruhnya.
· Suhu
Kisaran perubahan kecil, karena sifat fisisnya, seperti di lautan biasanya dipengaruhi oleh suhu udara selam periode berbeda-beda, suhu mempunyai kisaran luas baik secra harian / musiman. Kisaran ini batas toleransi.
Menurut Nybakken (1988), susunan factor-faktor lingkungan dan kisaran yang dijumpai di zona intertidal yaitu:
1. Pasang surut
Naik turunnya permukaan laut secara periodic selama suatu interval waktu tertentu disebut pasang surut. Pasang surut merupakan factor lingkungan yang paling penting yang mempengaruhi di zona intertidal. Tanpa adanya pasang surut atau hal-hal lain yang menyebabkan naik turunnya permukaan air secar periodic, zona ini tidak akan seperti itu dan fsktor-faktor lain akan kehilangan pengaruhnya.
2. Suhu
Karena sifat fisiknya, air terutama dalam jumlah besar seperti lautan menunjukkan perubahan suhu yang kecil dan jarang melebihi batas letak organisme.
3. Gerakan ombak
Di zona intertidal, gerakan ombak mempunyai pengaruh yang terbesar tehadap organisme dan komunitas dibandingkan dengan daerah-daerah laut lainnya. Pengaruh ini terlihat nyata baik secra langsung maupun tidak langsung. Aktivitas ombak mempengaruhi kehidupan pantai, secra langsung dengan cara utama.
4. Salinitas
Perubahan salinitas yang dapat mempengaruhi organisme, terjadi di zona intertidal melalui dua cara.
5. Factor-Faktor lain
Adanya substrat yang berbeda-beda yaitu pasir, batu dan lumpur menyebabkan perbedaan fauna dan struktur komunitas di daerah intertidal.
c. Biota Pada Zona Intertidal
Pada daerah pantai yang terdiri dari pasir, atau kerikil yang berrsih mempunyai pengecualian, karena daerah pasang surutnya dapat mendukung sejumlah besar dan berjenis-jenis organisme, walaupun tipe pantai yang berbeda cenderung untuk mempunyai sifat populasi sendiri. Sebagai contoh pantai yang terdiri dari batu-batuan merupakan tempat yang sangat baik bagi hewan-hewan atau tumbuh-tumbuhan yang dapat menempelkan diri pada lapisan ini. Golongan itu termasuk banyak jenis gastropoda moluska dan tumbuh-tumbuhan yang berukuran besar. Dua spesies Littorina undulata dan Tectarius malaccensis, tinggal hidup pada bagian atas dari pantai. Dibawahnya berturut-turut ditempati oleh jenis spesies lain dari Monodorita labio dan Nerita undata ( Hutabarat, 1985).
Pantai berbatu menjadi habitat bagi berbagai jenis molusca (kerang), binatang laut, kepiting, anemone, dan juga ganggang laut. Organisme di pantai berpasir tidak beragam, kebanyakan organisme mengubur dalam berpasir (Prajitno, 2009).